Inne Rachma Hardjanto: Kisah Sukses Diaspora Indonesia di Eropa



Menjalani bisnis dan meraih karir sebagai professional  di negeri orang tentu tidaklah mudah. Perbedaan bahasa, budaya, dan kebiasaan menjadi tantangan tersendiri bagi diaspora Indonesia yang membangun usaha dan karir di luar negeri. Meski begitu, banyak kok orang Indonesia yang mampu bertahan bahkan sukses dengan bisnis dan profesinya sehingga mampu bersaing dengan masyarakat lokal di negara tersebut.

 

Salah satunya adalah Inne Rachma Hardjanto, pemilik Interaff Europe dengan Picturesque Production sebagai salah satu bisnisnya, sebuah production company yang memproduksi berbagai iklan dan event terutama di dunia fashion Eropa.

 

Awal mula Inne meninggalkan Indonesia adalah ketika dia harus menemani suaminya yang mendapat ‘assignment’ sebagai konsultan expat untuk project Accenture dan Shell di Belanda serta UK pada tahun 2004. Berselang dua tahun kemudian, yakni tahun 2006 Inne sekeluarga resmi memutuskan untuk menetap di negeri kincir angin.

 

Sebelumnya Inne merupakan seorang dosen di Universitas Indonesia, dan saat pindah dia memanfaatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Beberapa gelar akademik pun diraih Inne dari Erasmus University of Rotterdam dan Gent University.  Suami Inne sendiri sukses berkarir sebagai konsultan expat untuk perusahaan Accenture, Shell dan Philips.

 

Seiring berjalannya waktu dikatakan Inne, tinggal di Eropa dan berinteraksi dengan masyarakat setempat membuka wawasan Inne dan suami untuk memulai bisnis sendiri.

 

Meskipun tidak bisa dikatakan mudah, pada tahun 2010 Inne mulai membentuk Picturesque Production, yang menangani berbagai klien ternama di Eropa, mulai dari desainer hingga produsen mode. Di saat yang bersamaan, Inne dan suami juga memiliki bisnis travel dan dealer mobil. Tidak cukup sampai disitu, keduanya pun kini telah terlibat sebagai investor di beberapa bidang usaha. Seperti agrikultur, proyek infrastruktur, hingga bisnis food service yang terdapat di Belanda dan Indonesia.

 

Dengan segala tantangan yang dihadapi, Inne dan suami mencoba menaklukkan pasar Belanda yang seperti diketahui memiliki budaya dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan Indonesia.

 

Inne bercerita, dalam beberapa project yang bekerjasama dengan partner perusahaan di Eropa sempat merasakan agak diragukan kemampuan dan profesionalitasnya. Namun ketika project telah berjalan dan sukses justru mereka berbalik sangat mengapresiasi Inne. Sejak itu jalinan kerjasama maupun klien semakin percaya bahkan menjadi awal jalan bagi Inne untuk mengerjakan project- project six figure saat itu.

 

Begitupun dalam menjalankan bisnis travel, dimana ada aturan-aturan ketat yang harus dipatuhi. Seperti jam kerja maksimum supir bis, aturan istirahat, serta standar penginapan dan makanan saat bekerja ke luar kota atau luar negeri. Jika tidak dipatuhi maka perusahaan harus siap-siap mendapatkan sanksi denda.

 

Lain halnya saat kerjasama dengan vendor dan partner, misalnya dengan jaringan hotel. Kerjasama harus detail dan jelas tertulis dari awal karena budaya Eropa yang tegas terhadap aturan tanpa fleksibilitas seperti di Indonesia.

 

“Kendala menjalani bisnis di luar negeri tentu ada dan banyak. Setiap bidang usaha memiliki kendala berbeda-beda, begitu pula setiap project yang kami jalani,” ungkap Inne.

 

Hal lain yang sebenarnya cukup disoroti dalam menjalankan bisnis di luar negeri adalah mengenai aturan-aturan pemerintah setempat. Namun ternyata tidak seperti yang dibayangkan, meskipun orang yang berasal dari luar Belanda, Inne merasa untuk mendapatkan izin usaha di negeri kincir angin tersebut justru dipermudah. Sebab pemerintah Belanda sangat mendukung kegiatan kewirausahaan.

 

Dikatakannya, tidak ada urusan administrasi yang sulit dan berbelit. Hanya saja dalam urusan pajak memang benar-benar harus patuh dan jujur. Jika berbuat kesalahan atau mencoba melakukan kecurangan maka jangan harap usaha yang dijalankan akan lancar. Sekali saja ketahuan akan berakibat fatal.

 

Hingga saat ini Inne dan suami masih menetap di Belanda. Namun karena banyak kegiatan lain yang harus diurus di luar Belanda, maka keduanya pun sering bepergian ke seluruh Eropa hingga Amerika. Dalam satu tahun belakangan Inne hilir-mudik antara Eropa dan Amerika. Inne sering menetap di Florida, US, selama satu, dua hingga tiga bulan lamanya. Selain menemani putranya yang kuliah di Aviation Institute di sana, Inne juga bekerja jarak jauh dari Florida. Bahkan sempat mengerjakan satu project fashion di New York pada bulan Maret 2020 saat awal pandemi Covid-19 merebak.

 

Sama seperti bisnis lain yang terdampak oleh pandemi covid-19, Inne Rachma pun merasakan hal yang sama pada usaha yang dijalaninya. Meski begitu Inne tetap bersyukur karena bisnisnya tidak hanya satu bidang dan memiliki beberapa income streams yang  bisa saling support. Sehingga aktivitas usaha tetap berjalan.

 

Kedepannya Inne berharap kondisi dunia segera pulih, sehingga banyak rencana yang sempat tertunda bisa segera terlaksana.

 

Sebagai seorang usahawan yang telah lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia bisnis Eropa, Inne punya pesan nih untuk pembaca Konsultanku yang punya rencana berbisnis. Menurutnya, belajar sambil menjalani bisnis lebih penting daripada terlalu banyak rencana tanpa melakukan apa-apa.

 

“Setiap step dilakukan dengan sabar, bertahap dari langkah kecil dan dilakukan dengan konsisten. We become what we repeatedly do,” tutur Inne menutup perbicangan.

 

 


< All Blog

Dapatkan solusi kebutuhan Anda

Apapun kebutuhan Anda baik perusahaan besar, kecil, atau pribadi ada solusinya. Konsultanku bermitra dengan berbagai praktisi profesional berkualitas dengan beragam keahlian. Urusan pajak, keuangan, akuntansi, manajemen SDM dan bahkan hukum bisnis jadi lebih praktis sekarang.

Lihat Solusi