Sepertiga Dunia Menuju Resesi, Indonesia Masih Aman?

Kabar tak menyenangkan lagi-lagi datang dari IMF. Pasalnya, lembaga keuangan dunia, Internasional Monetary Fund memperkirakan bahwa sepertiga dari negara-negara di seluruh dunia akan terdampak hebat resesi 2023. Lebih lagi, "raksasa-raksasa dunia" seperti Amerika Serikat dan China tengah mengalami perlambatan ekonomi. Lantas, apa kabar Indonesia? Akankah kita baik-baik saja?

an image

IMF: Sepertiga Dunia Bakal Terdampak Resesi!

Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), beberapa waktu lalu membuat suatu pernyataan yang sangat mengejutkan perihal ekonomi dunia. Ia mengatakan bahwa perekonomian dunia akan berada dalam keadaan yang sulit di tahun 2023 ini, bahkan lebih parah dari situasi dari tahun lalu.

 

Apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi? Menurut wanita kelahiran Bulgaria itu, penyebab mengapa tahun ini tidak akan menjadi tahun yang menyenangkan bagi dunia perekonomian adalah karena Amerika Serikat, Uni Eropa (UE), dan China–tiga nama yang termasuk ke dalam kawasan ekonomi besar–mengalami perlambatan dalam waktu yang bersamaan.

 

Baca Juga:
Inilah Jobdesk Supervisor yang Perlu Anda Ketahui
Perbedaan Customer, Consumer, dan Client
Surplus vs Defisit Bagi Perekonomian
6 Faktor Pengaruh Tingkat Konsumsi Masyarakat

Bagaimana perlambatan itu bisa terjadi? Penyebabnya adalah karena terjadinya perang antara Rusia-Ukraina yang barang tentu memiliki pengaruh besar terhadap dunia ekonomi. Selain itu, masih ada pula hal-hal lain yang disinyalir menjadi alasan mengapa semua itu dapat terjadi, yakni penyebaran virus Covid-19 di China yang membebani sistem ekonomi global, serta adanya beberapa negara yang terus mengalami peningkatan suku bunga.

 

Tak hanya itu saja, Kristalina Georgieva juga menambahkan bahwa kondisi ini tak hanya akan menimbulkan dampak bagi penduduk di negara-negara yang mengalami resesi saja, melainkan juga oleh orang-orang yang tinggal di negara yang tidak mengalami resesi ekonomi. Selain itu, perempuan yang kini berusia 69 tahun itu juga menyebutkan bahwa karena timbulnya perang Rusia-Ukraina, Uni Eropa (UE) juga diklaim akan turut mengalami resesi. Namun, ada pula pihak-pihak yang ia anggap dapat terhindar dari bencana resesi, salah satunya adalah sang Negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

 

Baca Juga:
Perusahaan rintisan tawarkan bantuan laporan pajak
Bantu Pemerintah, Startup Ini Tawarkan Jasa Penghitungan Pajak
Platform Konsultanku Optimistis Dorong Penerimaan
Mau tau cara menghemat pajak bisnis kamu?

Jika AS memiliki kans yang besar untuk terhindar dari resesi, maka negara manakah yang diprediksi akan terkena dampak serius dari hal tersebut? Nama pertama yang seketika muncul di pikiran tentu adalah China. Negara yang kerap dijuluki sebagai Negeri Tirai Bambu itu benar-benar terkena dampak yang signifikan dari merebaknya virus Covid-19. Sebelum virus itu menyebar secara luas ke seluruh dunia, China boleh dikatakan berada dalam situasi ekonomi yang tidak buruk; bagi pertumbuhan ekonomi global, China mampu menyumbangkan sekitar 35-40%. Akan tetapi, setelah munculnya virus Covid-19, kondisi yang dialami China pun seketika berubah drastis.

 

Dalam aspek pertumbuhan ekonomi, perubahan kondisi itu jelas dapat terlihat; China hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,4% pada tahun 2022. Hal itu disebabkan karena efek yang masih berkaitan dengan virus Covid-19, yaitu ditetapkannya kebijakan Zero Covid Policy oleh pemerintah. Jika ditengok dari sisi ekonomi, kebijakan tersebut jelas akan menjadi beban tersendiri. Selain itu, jika dilihat dari sudut pandang masyarakat, Zero Covid Policy juga sangat mempengaruhi segala macam kegiatan dan aktivitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Maka dari itu, seperti yang disampaikan oleh Kristalina Georgieva dalam wawancaranya bersama CBS pada tanggal 1 Januari lalu, kita tampaknya harus menerima fakta bahwa sepertiga dari ekonomi dunia akan mengalami resesi. Nahasnya lagi, bencana itu akan terjadi pada tahun 2023 ini.

 

Perekonomian Indonesia Masih Aman, Tidak?

 

Sejak awal, kita tak henti membahas perihal dampak resesi bagi negara-negara luar. Akan tetapi, bukankah pada akhirnya kita harus lebih mengkhawatirkan dampaknya bagi negara kita sendiri, yaitu Republik Indonesia? Lantas, bagaimana? Apakah di tahun 2023 ini perekonomian tanah air masih aman?

 

Beruntunglah, sepertinya masyarakat Indonesia boleh bernapas lega untuk sejenak. Hal itu dikarenakan berbagai lembaga ekonomi dunia seperti IMF, World Bank, Asian Development Bank, The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), dan Bloomberg Consensus membuat sebuah prediksi yang akan disambut dengan senyuman oleh seluruh masyarakat Indonesia: keadaan ekonomi Indonesia akan tetap mengalami pertumbuhan di tahun ini.

 

Seakan belum cukup dengan kabar baiknya, Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI saat ini, juga mengatakan bahwa pemulihan ekonomi di Indonesia, baik dari sisi konsumsi, demand, ekspor, maupun impor, hingga kini masih terjaga. Bahkan, untuk sisi investasi, terjadi kenaikan yang merambat pada angka di atas 5%. Meskipun memang, secara signifikan, perlambatan ekonomi global tetap saja terjadi.

 

Selama empat kuartal beruntun sejak Q4 pada tahun 2021 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dikatakan cukup konsisten dan selalu berada di atas angka 5%. Maka dari itu, kita mesti bersyukur karena situasi Indonesia dalam aspek ekonomi tergolong dalam keadaan baik. Semoga saja hal itu akan terus terjaga dan negara ini dapat terhindar dari segala macam bencana di bidang ekonomi.

 

resesi 2023

 

< All Blog

Butuh bantuan?

Berbagai Jasa Profesional Pajak, Akuntansi, Audit, dan Keuangan dari Ahli yang Berpengalaman di Konsultanku.

Lihat Solusi