Surplus vs Defisit Bagi Perekonomian

Suatu anggaran dalam rumah tangga, perusahaan, atau negara dapat mengalami surplus maupun defisit, tergantung dari besarnya penerimaan dan pengeluaran. Pasti Anda sering mendengar kedua istilah tersebut, sebab sering dihadapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

an image

 

Surplus adalah suatu kondisi dimana tingkat pendapatan atau pemasukan yang diterima melebihi pengeluaran belanja. Berlawanan dari itu, defisit artinya yaitu situasi ketika pengeluaran lebih besar dari penerimaan.

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) defisit artinya kekurangan (dalam anggaran belanja) Sedangkan definisi defisit secara umum adalah suatu kondisi yang terjadi apabila dalam suatu negara atau organisasi mengalami pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukannya.

Baca Juga:
Perbedaan Customer, Consumer, dan Client
Inilah Jobdesk Supervisor yang Perlu Anda Ketahui
6 Faktor Pengaruh Tingkat Konsumsi Masyarakat
Pentingnya Membuat Perencanaan Bisnis (Business Plan)

 

 

Sehingga kondisi kas suatu negara akan menurun dan berubah cukup drastis seiring dengan pengeluaran yang arusnya tidak terkontrol. Defisit dapat disebabkan karena daya beli masyarakat yang rendah, pembiayaan bangunan, saat inflasi, dan melemahnya nilai tukar mata uang. Namun, hal tersebut ternyata tidaklah terlalu signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian.

Baca Juga:
Perusahaan rintisan tawarkan bantuan laporan pajak
Bantu Pemerintah, Startup Ini Tawarkan Jasa Penghitungan Pajak
Platform Konsultanku Optimistis Dorong Penerimaan
Mau tau cara menghemat pajak bisnis kamu?

 

Baca Juga : Tarif Pajak Penghasilan Usaha Pribadi UMKM

 

Surplus tidak selamanya baik, begitu pula juga defisit yang tidak selamanya menunjukkan tanda bahaya terhadap perekonomian. Dalam suatu negara, kondisi surplus tidak selamanya berbuah positif bagi perekonomian, dan defisit pun tidak selalu berimbas buruk bagi perekonomian.

 

Pada rumah tangga, surplus adalah kondisi keuangan ketika pendapatan seperti gaji, profit, laba dan sewa yang didapat oleh anggota keluarga jumlahnya lebih besar dari belanja rumah tangga, seperti untuk pembayaran tagihan listrik dan cicilan kendaraan. Namun, apabila gaji dan penerimaan lain lebih kecil maka akan dinamakan kondisi defisit.

 

Pada perusahaan, akan dikatakan surplus apabila terjadi saat penjualan barang dan jasa yang dihasilkan lebih besar dari pengeluaran untuk membayar upah karyawan, biaya material atau bahan baku dan utilitas seperti listrik dan air. Berlawanan dengan defisit yang akan terjadi apabila hasil penjualan perusahaan lebih rendah dibandingkan pengeluaran perusahaan.

 

 

Pada pemerintah, surplus adalah situasi ketika pendapatan pajak, retribusi dan pendapatan dari perusahaan milik negara jumlahnya melebihi kebutuhan untuk gaji pegawai negeri, biaya pembangunan dan kebutuhan lainnya. Sebaliknya, anggaran defisit adalah situasi ketika pengeluaran pemerintah jumlahnya lebih besar dibanding pendapatannya.

 

Baca Juga : Penjelasan Lengkap Pajak Penghasilan PPh Pasal 21

 

Dampak Surplus dan Defisit bagi Perekonomian

Setelah Anda mengetahui definisi dari surplus, Konsultanku juga akan memberikan pengetahuan mengenai dampak dari terjadinya surplus bagi perekonomian, diantaranya sebagai berikut:

 

1. Dampak Surplus Kas

- Mata uang neraca tersebut akan semakin kokoh posisinya.

- Kondisi perekononomian akan cenderung membaik.

- Harga dari berbagai produk yang diekspor akan menjadi lebih tinggi sehingga devisa negara akan meningkat.

- Tingkat daya saing produk ekspor menurun.

- Surplus kas memberikan perusahaan banyak pilihan untuk investasi terhadap uang yang dimilikinya. Perusahaan mampu membayar tagihannya tepat waktu bahkan mudah berinvestasi.

- Kepercayaan investor akan semakin tinggi apabila laporan keuangan perusahaan selalu menunjukkan surplus kas.

 

Baca Juga : Perbedaan Wajib Pajak Orang Pribadi dan Wajib Pajak Badan

 

 

2. Dampak Defisit Kas

Secara umum, defisit neraca menunjukkan bahwa perekonomian suatu negara cenderung melemah. Tentu saja akan ada dampak-dampak yang juga perlu ikut diperhatikan, beberapa diantaranya yaitu:

- Mata uang negara akan cenderung melemah.

- Terjadi inflasi dimana harga dari berbagai produk yang diimpor akan lebih mahal.

- Suku bunga acuan dinaikkan.

- Investasi asing yang masuk berpotensi meningkat karena nilai mata uangnya melemah.

- Harga berbagai produk ekspor akan lebih kompetitif sehingga volume ekspor akan mengalami peningkatan.

- Menyebabkan perusahan tidak bisa memberikan gaji karyawan, membayar hutang atau membeli bahan baku secara tunai.

- Penurunan tingkat kesempatan kerja karena terjadi penuruan tingkat investasi sehingga jumlah pengangguran bertambah.

- Jika hal ini dibiarkan terus-menerus kondisi ekonomi akan semakin memburuk.

 

Baca Juga : Terbaru, Syarat Daftar NPWP Badan Online Untuk UMKM 2021


Pada dasarnya melalui surplus dan defisit inilah akan mengetahui apakah pengelolaan dana sudah dilakukan dengan baik atau tidak. Agar pengelolaan keuangan perusahaan Anda berjalan baik, Anda juga perlu melakukan konsultasi pada ahlinya.

 

< All Blog

Butuh bantuan?

Berbagai Jasa Profesional Pajak, Akuntansi, Audit, dan Keuangan dari Ahli yang Berpengalaman di Konsultanku.

Lihat Solusi