Cara Menilai Prospek Saham: Minimalisasi Kerugian Sebelum Berinvestasi

Bukan hal yang baru kalau harga saham dibilang fluktuatif. Artinya, saham bisa naik dan bisa turun, sama halnya dengan harga komoditas pasar. Meski begitu, justru sifat fluktuasi inilah yang kerap menjadi pertimbangan investor dalam melakukan pembelian saham. Nah, untuk mengatasi keraguan dalam berinvestasi, berikut cara menilai prospek saham untuk meminimalisir potensi kerugian!

an image

 

Faktor Penentu Naik-Turun Harga Saham dan Cara Menilai Prospek Saham

Biasanya, growth investor selalu punya cara sendiri untuk memastikan bahwa saham yang mereka beli termasuk growth stock atau saham yang bertumbuh. Bahkan, untuk perusahaan yang belum mencetak laba, ada indikator yang bisa mereka gunakan untuk melihat pertumbuhannya.

Faktor Penyebab Fluktuasi Harga Saham

Sejauh ini, ada dua macam faktor penyebab fluktuasi atau naik-turunnya harga saham, yaitu faktor internal dan eksternal di bawah ini.

Faktor Internal

Sesuai namanya, faktor internal mencakup faktor-faktor fluktuasi harga saham yang penyebabnya datang dari perusahaan itu sendiri. Faktor internal antara lain mencakup kondisi fundamental perusahaan dan aksi korporasi.

Saham dari perusahaan yang berfundamental baik akan menyebabkan tren harga sahamnya naik. Begitu pun sebaliknya, perusahaan dengan fundamental yang buruk akan berimbas pada turunnya tren saham perusahaan tersebut.

Di samping itu, kebijakan yang diambil oleh jajaran manajemen perusahaan juga berdampak pada nilai sahamnya. Kebijakan inilah yang disebut sebagai aksi korporasi. Aksi tersebut diantaranya mencakup merger, akuisisi, atau divestasi.

Faktor Eksternal

Kebalikan dari faktor internal, faktor eksternal merupakan faktor dari luar perusahaan yang menyebabkan terjadinya naik-turun harga saham. Faktor eksternal mencakup kondisi ekonomi makro, harga kurs rupiah terhadap mata uang asing, dan kebijakan pemerintah.

Imbas kondisi ekonomi makro terhadap harga saham dapat dirasakan saat terjadi inflasi atau saat naik-turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Ketika suku bunga perbankan melejit, harga saham yang diperdagangkan di bursa cenderung turun tajam. Hal ini disebabkan pola investor yang cenderung mengalihkan investasinya ke instrumen perbankan saat suku bunga naik.

Selain itu, lemahnya kurs rupiah terhadap mata uang asing juga berpengaruh terhadap harga saham. Melemahnya kurs akan berakibat pada meningkatnya biaya operasional dan secara otomatis juga mengakibatkan turunnya harga saham yang ditawarkan.

Tak hanya itu, kebijakan pemerintah pun turut mempengaruhi harga saham, terlebih jika kebijakannya mencakup kegiatan ekspor-impor, kebijakan perseroan, kebijakan utang, dan kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA).

3 Indikator Penting dalam Menilai Prospek Saham

Sebetulnya, Anda dapat menganalisis prospek saham suatu perusahaan dengan memperhatikan faktor internal dan eskternal yang telah dibahas sebelumnya. Just in case, inilah tiga indikator terpenting yang menjadi perhatian para growth investor sebelum memutuskan untuk membeli saham suatu perusahaan.

Historical and Future Earning Growth

Historical Earning Growth dapat dianalisis melalui informasi dan rekam jejak penghasilan perusahaan dalam kurun waktu 3, 5, atau 10 tahun terakhir. Jika pertumbuhan penghasilannya bagus, maka Anda bida menganggap bahwa perusahaan memiliki kemampuan dalam mengembangkan bisnisnya. Sementara itu, Future Earning Growth merupakan Perkiraan pertumbuhan perusahaan di masa depan dalam kurun waktu tertentu, misalnya dalam 3 bulan atau 1 tahun belakangan.

Return of Equity (RoE)

Secara singkat, Return of Equity atau RoE merupakan sebuah cara untuk mengetahui sejauh mana perusahaan bisa atau mampu mengelola modal. Cara menghitungnya adalah membagi laba bersih dengan total modal. Jika hasil perhitungannya menunjukkan bahwa RoE perusahaan berposisi stabil atau malah naik, berarti perusahaan telah bekerja dengan efisien dan menghasilkan return dengan baik.

Price Performance

Indikator ketiga, apabila Anda sudah melihat jelas bahwa harga saham perusahaan tersebut tidak bisa naik dua kali lipat dalam lima tahun, maka kemungkinan besar saham di perusahaan itu bukan termasuk growth stock. Lebih-lebih, kalau usia listing perusahaan diketahui tergolong muda di industri yang sedang berkembang pesat.

Sekarang, Anda sudah mengetahui sekelumit metode guna menilai prospek saham. Seperti biasa, untuk urusan pajak atas keuntungan investasi Anda, serahkan saja pada konsultan pajak di Konsultanku!
 

< All Blog

Butuh bantuan?

Berbagai Jasa Profesional Pajak, Akuntansi, Audit, dan Keuangan dari Ahli yang Berpengalaman di Konsultanku.

Lihat Solusi