Financial Technology Crowdfunding: Jembatan Pelaku Usaha UMKM dan Investor Potensial



Salah satu komponen yang paling krusial dalam bisnis adalah inovasi. Eksekusi inovasi bisnis yang terencana akan meningkatkan produktivitas bisnis itu sendiri. Meskipun begitu, tidak seluruh ide dapat direalisasikan begitu saja. Salah satu kendala paling besar dalam realisasi ini berkaitan dengan kemampuan finansial pelaku bisnis. Tidak dapat dipungkiri bahwa inovasi, apapun bentuknya, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bagi pelaku bisnis, terutama di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UMKM), tentu hal ini menjadi kendala besar. Terlebih pengajuan pinjaman dana ke bank konvensional juga membutuhkan prasyarat yang cukup kompleks.

Kesulitan perolehan dana oleh pelaku usaha ini dapat diatasi dengan apa yang disebut crowdfunding atau disebut juga urun dana. Pada dasarnya, crowdfunding adalah proses pengumpulan dana oleh pelaku bisnis yang diperoleh dari kontribusi sejumlah besar individu melalui media internet. Pelaku bisnis dapat mengunggah proposal bisnis di website atau social media crowdfunding yang disediakan oleh perusahaan fintech. Selain platform, perusahaan juga akan membuat sistem yang mencakup sistem pengajuan crowdfunding, sistem transaksi bagi investor, dan seluruh informasi keuangan atas bisnis yang diajukan.

Didukung platform yang mumpuni, pelaku bisnis tidak serta merta mendapatkan dana. Tentu tidak seluruh individu di internet akan menyumbangkan uang begitu saja. Sehingga, salah satu komponen penting dalam crowdfunding adalah kepercayaan investor (investor’s trust), dimana investor perlu diyakinkan bahwa dana yang diajukan akan digunakan untuk pelaksanaan kegiatan yang bermanfaat. Dalam hal ini, komunikasi memegang peranan yang sangat penting, dimana kemampuan pelaku bisnis untuk mempresentasikan inovasi bisnis secara persuasif sangat dibutuhkan.

Jenis-Jenis Crowdfunding

Crowdfunding dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu: Crowdfunding berbasis reward dan ekuitas.

1. Reward-Based Crowdfunding, dimana individu akan memperoleh barang/jasa non finansial sebagai timbal balik atas dana yang diberikan. Selain contoh Alexander Pope di atas, yang menunjukkan implementasi traditional reward-based crowdfunding, salah satu contoh implementasi modern reward-based crowdfunding dapat kita temui di dunia eSports.

Bagi anda penggemar game MOBA Dota 2, tentu tidak asing dengan The International, turnamen tahunan Dota 2 terbesar yang diselenggarakan oleh Valve. Pada bulan Mei 2013, Valve memperkenalkan konsep Battle Pass (atau disebut juga Compendium) yang menjadi sumber crowdfunding prize pool turnamen tersebut. Battle Pass memberikan kesempatan bagi pemain untuk memperoleh item ekslusif setelah menyelesaikan misi tertentu. Pada umumnya, penjualan Battle Pass dimulai 3 (tiga) bulan sebelum turnamen dilaksanakan.

Hasil pembelian Battle Pass akan dialokasikan ke prize pool The International, yang dapat dipantau perkembangannya melalui website. Dengan bantuan crowdfunding ini, prize pool The International 2019 yang semula sebesar USD 1.6 juta, naik menjadi USD 30.2 juta per Juli 2019.

Mencontoh apa yang dilakukan oleh Valve, pelaku bisnis yang menerapkan reward-based crowdfunding dapat memberikan barang/jasa tertentu kepada individu yang memberikan kontribusi dana. Pada umumnya, barang/jasa yang diberikan memiliki karakteristik spesial dan hanya dijual di waktu-waktu tertentu.

2. Equity-Based Crowdfunding, dimana perusahaan non-listed akan menjual sekuritasnya, baik dalam bentuk saham; convertible notes; revenue share; maupun debt (utang). Sama halnya dengan investor perusahaan listed, investor pada equity-based crowdfunding akan memperoleh keuntungan seiring dengan berkembangnya bisnis perusahaan. Selain itu, perusahaan memiliki pengendalian penuh atas proses penawaran sekuritas, dimana perusahaan bebas untuk menentukan sekuritas apa dan pada harga berapa sekuritas akan dijual. Perusahaan juga dapat menentukan minimum funding goal. Sehingga, meskipun target crowdfunding tidak tercapai, perusahaan tetap dapat meningkatkan modal.


Besarnya cost yang harus dikeluarkan untuk melakukan IPO membuat beberapa perusahaan memilih untuk tidak menjual sahamnya di bursa. Selain itu, bagi perusahaan start up dan perusahaan skala medium, IPO juga tidak dianggap sebagai pilihan yang tepat untuk dilakukan. Hal ini menandakan sulitnya meningkatkan likuiditas bagi perusahaan. Selain itu, untuk berinvestasi di start up, investor harus memiliki akreditasi, dimana investor harus memiliki kekayaan bersih lebih dari USD 1 juta atau memiliki pendapatan per tahun sebesar USD 200 ribu. Sehingga, dapat dikatakan, kesempatan investasi sangat terbatas untuk investor dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas. Sebagai jawaban dari persoalan ini, Equity crowdfunding memberikan peluang bagi investor pemula untuk memulai investasinya.

Pengumpulan Dana Melalui Crowdfunding

Setelah menentukan crowdfunding jenis apa yang akan dilaksanakan (dengan mempertimbangan cost and benefit dari masing-masing jenis), Anda melakukan pendaftaran pada platform crowdfunding dan mengunggah proposal bisnis Anda di platform tersebut. Beberapa platform tersebut di antaranya adalah Kitabisa.com, Gandengtangan, dan Akseleran. Pada umumnya, seluruh platform tersebut sudah dilengkapi dengan fitur dan informasi yang mendukung proses pengumpulan dana.

Dengan bantuan platform crowdfunding, pelaku bisnis dapat memperoleh jangkauan investor yang lebih banyak. Selain itu, pengumpulan dana juga dapat dilakukan dengan lebih efisien. Pelaku bisnis hanya perlu mempersiapkan proposal bisnis dan dokumen yang dibutuhkan secara online, sehingga dapat dengan mudah diakses oleh investor potensial.

 


< All Blog

Dapatkan solusi kebutuhan Anda

Apapun kebutuhan Anda baik perusahaan besar, kecil, atau pribadi ada solusinya. Konsultanku bermitra dengan berbagai praktisi profesional berkualitas dengan beragam keahlian. Urusan pajak, keuangan, akuntansi, manajemen SDM dan bahkan hukum bisnis jadi lebih praktis sekarang.

Lihat Solusi