Dalam pemotongan PPh 21, terdapat tiga metode yang umumnya digunakan. Meskipun perhitungan PPh telah diatur oleh DJP, setiap perusahaan dapat memilih metode perhitungannya tersendiri yang disesuaikan dengan tunjangan pajak atau gaji bersih yang diterima karyawannya. Lantas, apa saja ketiga metode pemotongan yang dimaksud? Berikut adalah ulasan selengkapnya dari Konsultanku.

an image

Metode Nett dalam Memotong PPh 21

Metode nett digunakan untuk karyawan atau penerima penghasilan yang mendapatkan gaji bersih dengan pajak yang ditanggung oleh perusahaan. Dalam penerapannya, perusahaan menanggung seluruh PPh karyawan dengan cara menambahkan komponen subsidi atau kompensasi di luar gaji pokok untuk membayar pajak. Jumlah komponen ini setara dengan pajak yang dibebankan pada penghasilan karyawan.

 

Sebagai contoh, jika seorang karyawan berpenghasilan Rp10.000.000 per bulan dan memiliki beban PPh 21 sebesar Rp220.883 per bulan, perusahaan akan memberikan subsidi PPh 21 sebesar Rp220.883 kepada karyawan. Dengan demikian, take home pay (gaji bersih) yang diterima karyawan tetap sesuai dengan yang dijanjikan perusahaan, yaitu Rp10.000.000.

Baca Juga:
Penghitungan dan Status Pajak bagi Pasangan Suami-Istri Bekerja
Jasa Travel Haji dan Umroh Kini Kena PPN, Simak Ketentuannya dalam PMK Nomor 71 Tahun 2022
Pajak Penghasilan PPh Pasal 21: Definisi, Dasar Hukum, Tarif, dan Waktu Penyetoran Serta Pelaporan Pajak
Panduan Lengkap Pajak Penghasilan PPh Pasal 22

 

Namun, kelemahan dari metode nett adalah perusahaan mungkin harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membayar tunjangan pajak karyawan. Tunjangan ini pun tidak dapat mengurangi PPh Badan. Selain itu, pemotongan PPh 21 biasanya menyulitkan penyusunan anggaran perusahaan karena harus menghitung total subsidi pajak terlebih dahulu.


Metode Gross untuk Pemotongan PPh 21

Jika pembayaran tanggungan pada metode nett dibayarkan melalui subsidi atau kompensasi, maka pada metode gross, karyawan menanggung sendiri pajak penghasilannya. Hal ini berarti gaji pegawai yang diperoleh atau diterima belum dipotong PPh 21 sehingga perlu dilakukan pemotongan pajak.

Baca Juga:
Tarif dan Mekanisme Pemungutan Pajak Digital di Indonesia
Upaya Minimalkan Pajak Secara Legal Dengan Tax Planning
Tax Planning Untuk Bisnis, Upaya Minimalkan Pajak Secara Legal
Apa itu Restitusi Pajak: Pengertian, Dasar Hukum, Tata Cara, dan Jangka Waktu Pengembalian

 

Contoh dari penerapan metode ini adalah seorang karyawan memiliki gaji sebesar Rp10.000.000 per bulan dan memiliki beban PPh 21 sebesar Rp220.883 per bulan. Karena perusahaan menerapkan metode gross, maka besaran take home pay yang diterima sebesar Rp9.779.167 (Rp10.000.000 – Rp220.883).

 

Dibandingkan dengan metode lainnya, pemotongan PPh 21 dengan metode gross dinilai lebih adil untuk karyawan. Sebab, dengan menanggung PPh 21 sendiri, penghasilan bruto karyawan tidak akan terpengaruh oleh PTKP. Karyawan tetap memperoleh upah yang sama untuk pekerjaan yang sama nilainya.


Metode Gross up untuk Memotong PPh 21

Metode gross up merupakan metode pemotongan PPh 21 dengan memberikan tunjangan pajak sebesar pajak yang dipotong. Dalam pemotongan PPh 21 dengan metode ini, perusahaan akan menambah gaji kotor karyawan sesuai dengan nominal pajaknya. Dengan begitu, saat dikurangi dengan beban PPh 21, take home pay karyawan tetap sama dengan yang dijanjikan.

 

Contohnya, seorang karyawan memiliki gaji pokok sebesar Rp10.000.000 per bulan dan memiliki beban PPh 21 sebesar Rp220.883 per bulan. Karena perusahaan menerapkan metode gross up, karyawan tersebut diberi tunjangan sebesar Rp220.833 per bulan sehingga total gaji bruto yang diterima setiap bulannya adalah Rp10.220.833.

 

Melalui metode gross up, kedua belah pihak, baik perusahaan maupun karyawan dapat menikmati PPh 21. Karyawan menerima penghasilan utuh dan perusahaan bisa mengurangi beban PPh Badan dengan memasukkan tunjangan pajak sebagai komponen biaya perusahaan. Namun, metode ini lebih rumit dilakukan karena perusahaan harus menyelesaikan 2 langkah perhitungan, yaitu menghitung tunjangan pajak penghasilan dan menghitung potongan pajaknya.


Kesimpulan

Pada intinya, terdapat 3 metode pemotongan PPh 21 yang bisa dimiliki perusahaan, yakni metode nett, metode gross, dan metode gross up. Pemilihan metode ini pun tidak boleh dilakukan sembarangan. Meskipun pengeluaran perusahaan untuk menanggung PPh Pasal 21 karyawan secara fiskal dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung PPh Badan, perusahaan tetap membutuhkan analisa komprehensif dalam memilih metode tersebut.

 

Menghitung dan memotong PPh Pasal 21 bukanlah pekerjaan sederhana mengingat sifat dari pajak tersebut yang subjektif dan variatif. Namun Anda tidak perlu khawatir, Konsultanku hadir membantu Anda dalam memudahkan proses tersebut melalui jasa perhitungan dan pelaporan pajak. Dengan Konsultanku, urusan perpajakan Anda menjadi lebih terjamin karena ditangani oleh ahli pajak yang profesional.

 

pemotongan pph 21, metode pemotongan pph 21

pemotongan pph 21, metode pemotongan pph 21

 

< All Blog

Butuh bantuan?

Berbagai Jasa Profesional Pajak, Akuntansi, Audit, dan Keuangan dari Ahli yang Berpengalaman di Konsultanku.

Lihat Solusi